Selasa, 28 April 2015

Rapat Pengurus



Hal yg dibahas :
1. Evaluasi kunjungan Frater
2. Persiapan bulan rosario
3. Rencana  kegiatan arisan


Partisipasi umat dlm kunjungan frater sangat baik dan semua berjalan dengan lancar. Waktu berkunjung hanya sebentar (1 malam), untuk selanjutnya mungkin agak diperlama antara 2 sampai 3 hari supaya frater nantinya benar-benar menyatu dengan umat. Dalam sharing, frater kurang aktif menanyakan kondisi umat dan kendala2 yang dihadapi lingkungan serta solusi2 yg harus dilakukan. Sebagai rasa terima kasih atas kunjungannya, lingkungan memberi "uang saku" sebesar Rp 300.000 diambil dari kas.

Doa rosario nantinya dilaksanakan setiap hari, kecuali hari minggu karna ada benturan waktu dng pembekalan calon krisma dan latihan koor. Untuk tehknisnya, dilaksanakan secara bergilir dr rumah ke rumah scr bergantian, waktu 19.00 wib, pemimpin doa secara bergantian oleh umat dan diatur oleh seksi liturgi, untuk yg ketempatan dimohon hanya menyediakan air putih saja (tanpa konsumsi). Semoga selama sebulan nanti, doa rosario berjalan dengan lancar dan mohon dukungan dr umat untuk hadir lbh aktif.

Untuk smakin menambah rasa kekeluargaan umat, lingkungan akan mengadakan arisan yg akan dilakukan setiap bulan setelah pertemuan doa. Besarnya dana untuk arisan sbb:
~ arisan      : Rp 50.000
~ kas           : Rp   5.000
~ konsumsi: Rp   5.000
Total keselurahan Rp 60.000


Kamis, 23 April 2015

Sejarah Gereja Kristus Raja Karawang





Tahun  1962 merupakan awal pelayanan bagi umat Katolik di Karawang.Dimulai dari asrama TNI 324 Telukjambe.Pada tahun 1964 umat Katolik mulai menggunakan sebuah rumah di asrama sebagai tempat berkumpul bersama.Tempat ini yang akhirnya di kemudian hari menjadi kapel St.Mikael Telukjambe.
            Setelah tempat pertemuan berpindah-pindah dari rumah ke rumah,pada tahun 1968 umat Karawang mulai mendapatkan tempat pertemuan.Sebuah gudang di Babakan Cianjur direnovasi menjadi gereja.
            Sejak tahun 1969 umat paroki di Karawang mendapat pelayanan rutin dari Pastor J.Corstjens OSC.Beliau pastor Paroki Subang dan mendapatkan tugas secara tetap melayani umat di Karawang dan Purwakarta.Atas upaya beliau dan umat  pada tahun 1974 Karawang resmi menjadi stasi dari paroki Subang.Lima tahun kemudian,bangunan Gereja Katolik Babagan Cianjur  menjadi gereja permanen setelah mengalami beberapa  kali pemugaran.


            Pada tahun 1981 Pastor J.Corstjen OSCdigantikan oleh Pastor Hardjosoebroto OSC. Pastor Hardjo banyak melakukan penataan dan pembenahan umat.Mulailah dibentuk Dewan Pastoral,PGAK,dan WK.Pada tahun 1982 MGR.Arntz OSC mengizinkan Pastor Hardjo untuk membeli rumah di JL.Sedap Malam 10 sebagai Pastoran.Pada tahun yang sama pada tanggal 21 November secara resmi rumah di Jl.Sedap Malam 10 dijadikan Pastoran.Peresmian pastoran sekaligus sebagai peresmian Stasi Karawang menjadi Paroki,sehingga Peringatan Kristus Raja Semesta Alam menjadi Hari jadi Paroki Karawang.
            Pada awal tahun 1990 masyarakat sekitar gereja tidak menghendaki adanya tempat ibadah orang Katolik di tempat itu.Mereka melayangkan surat protes atas keberadaan gereja.Pada masa Adven 1993 terjadi gangguan terhadap kelangsungan gereja.Umat yang hendak ke gereja dihalang-halangi.
            Karena situasi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan perayaan Ekaristi,maka setelah Pekan Suci tahun 1994 perayaan Ekaristi dipindahkan ke kompleks sekolah Yos Sudarso,Jalan Belakang Pasar 14.
            Tahun 1990-1994 inilah tahun-tahun perjalanan berat Grereja Katolik Kristus Raja Karawang. Perjalanan waktu yang diwarnai perlakuan diskriminatif oleh pemerintah,penolakan dan gangguan warga sekitar gerja,dan perjuangan berat untuk terus bertahan hingga mendapatkan hak dan pengakuan semestinya.
Melalui perjalanan  perjuangan berat dan panjang, dan dengan bantuan pemerintah pusat ,pada tahun 1994 izin mendirikan bangunan di Babakan Sananga untuk gereja dikeluarkan oleh Bupati Karawang,Bapak Sumarno Sumardi .
            Pada tahun ini juga dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Kristus Raja Karawang.Setelah pembangunan pagar keliling dan bangunan gereja sementara selesai,perayaan Ekaristi hari Minggu dipindahkan lagi dari kompleks sekolah Yos Sudarso ke jalan Parahyangan 45.
            Pembangunan gereja dan kehidupan menjemaat berlangsung terus hingga pada tanggal 23 November 1996 pada peringatan Kristus Raja,bangunan gereja yang baru diresmikan oleh Sekwilda Kabupaten Karawang dihadiri oleh pejabat daerah Tingkat II kab.Karawang,Wakil MUI,dan dikemudian hari diberkati oleh Uskup Agung Bandung,MGR.Alexander DJajasiswaja Pr.
            Dengan berbagai upaya dan usaha,pada pesta Kristus Raja tahun 1998,aula st.Agustinus dan Pastoran diberkati oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung Pastor Markus Priyo Kushardjono OSC.Lengkaplah kompleks bangunan Paroki Kristus Raja Karawang.
            Sejak tahun 1998 perkembangan umat dan perkembangan sarana terus bertambah. Tahun 2013 pada usianya yang ke- …. Paroki Kristus Raja Karawang, semakin memantabkan pelayanan dengan dukungan Gedung Gereja, Gazebo,Gedung St. Agsutinus,Balai Pengobatan  “Kurnia Asih”, Kantin, dan area parkir yang lebih luas. Semua ini adalah sarana untuk mewartakan Injil,berkarya nyata dalam menebarkan keselamatan.


            Dengan berkat Allah Gereja Katolik Kristus Raja semakin memantapkan eksistensinya, dan biarlah tetap Kristus Yang Merajai hati setiap umat .

Jadwal Misa :

Ø  Misa Harian ,Pukul 06.00
Ø  Misa Jumat Pertama,Pukul 18.00
Ø  Misa Biasa Sabtu,Pukul 18.00
Ø  Misa Biasa Minggu
v  Misa I,Pukul 06.00
v  Misa II,Pukul 08.30
Ø  Misa Jumat Pertama,pukul 18.00
Ø  Misa Konven, Setiap hari Jumat ke-2, pkl 19.00

Para Gembala yang pernah berkarya di Karawang:

1961-1969 Mgr. Petrus Marinus Arntz OSC.
1969-1981 R.P.J. Corstjens OSC
1981-1984 R.P. Hardjo Soebroto OSC
1984-1987 R.P. Y.R. Herupranata OSC
1987-1997 R.P. Ag. Made Sudjata OSC
1997-2000 R.P.T. Warhadi Hs. OSC dan R.P.P Bekatmo OSC
2000-2004 R.P.P. Yoyo Yohakim OSC, R.P. Theo van Rijn OSC, dan R.P.P. Umar Sumardi OSC
2004-2005 R.P.S. Dany Sanusi OSC, R.P. Ignatius Putranto OSC, dan R.P. Euard Daeli OSC
2005-2009 R.P. Lukas Sulaeman OSC, R.P. Ignatius Putranto OSC, R.P. Ch. Kristianto OSC, dan R.P. Eduard Daeli OSC
2009-2012 R.P. Ag. Made Sudjata OSC, R.P. Balok, dan R.P. Ch. Kristianto OSC
2012-2014 R.P. Yohanes Baru Alamsyah OSC, R.P. Haris Andjaja OSC, dan R.P. Dominikus Sidauruk OSC


Disalin dr Warta Paroki Kristus Raja Krwng

Kamis, 09 April 2015

lingkungan baru...semangat baru....

Sebuah lingkungan/komunitas tdk akn berkembang bila tidak ada kerja sama tim.ibarat tubuh bila salah satu organ tubuh tdk berfungsi maka yg lain jg akan terpengaruh misal sakit kepala maka sluruh badan akn merasakan sakit dan akn malas beraktifitas
Begitu pula sebuah lingkungan/komunitas tdk akan berjalan bila setiap masing2 pengurus tdk saling mendukung.misal semua kegiatan atau urusan di serahkan ke satu orang akn terasa capek n membosankan.
Maka dari itu di bentuklah sebuah pengurus yg masing2 seksi punya tugas sendiri sendiri
Dari berdiri tgl 18 januari 2015 sampai saat ini semua berjalan dg lancar.kegiatan terorganisir dg baik.dari hal kegiatan doa.pertemuan pengurus.maupun penyampaian ke umat semua dilakukan dg tnggung jawab.
Pertemuan bukan harus secara formal/resmi tetapi sekedar kumpul ngobrol sambil ngopi jg bisa menambah kekeluargaan antar umat
Namanya kerja di ladang Tuhan.kerja sosial harus di sertai dg keihklasan maka akan terasa tnpa beban dan merasa nyaman.
Umat yg terdaftar sekitar 30kk sdh terbilang bnyak dlm sebuah lingkungan.walaupun dr ke 30kk masih bnyak yg blm bisa ikut rutin bergabung dg harapan suatu saat nnti mereka akn ikut untuk memenuhi ruangan setiap ada kegiatan.
Bnyak kendala yg di hadapi dari hal pekerjaan,usaha,maupun bisnis.tapi kebanyakan terkendala dg pekerjaan krn sbagian besar umat adl pekerja yg bekerja di pabrik,tdk jarang stiap ada kegiatan berbenturan dg kerja/shif
Semoga dg adanya lingkungan yg baru ini GRIYA PESONA persaudaraan umat katolik lebih erat lagi.di bawah induk dari GEREJA KRISTUS RAJA KARAWANG lingkungan ini bisa lebih berkembang lagi dan umat bisa terlayani

SALAM DAMAI DALAM KRISTUS

Minggu, 05 April 2015

Selamat Paskah



Dalam Kitab Perjanjian Lama, paskah menandakan Tuhan telah melewati rumah-rumah Israel di Mesir, sehingga menyelamatkan mereka (Kel. 12:27).
Dalam Perjanjian Baru Paskah menunjukkan pengorbanan Tuhan Yesus disalib. Pengorbanan itu membebaskan manusia dari seluruh perbudakan dosa. Hal ini hanya terjadi bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Paskah bisa disebutkan sebagai tindakan Allah mengasihi manusia, dengan mengorbankan anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus.
Pengorbanan ini bertujuan menyelesaikan dosa dan memberi keselamatan. Dengan peristiwa kebangkitan dari antara orang mati, maka Allah telah melakukan pekerjaan pendamaian dengan diri-Nya ( II Kor. 5:18). Antara manusia dengan Dia, tidak ada lagi permusuhan, tembok dosa yang memisahkan kita dengan Dia, kini telah dirobohkan (Ef. 2:14). Dengan peristiwa-peristiwa ini maka sekarang kita diterima sebagai anak-anak-Nya dan beroleh persekutuan dengan Dia.
Bukan Rutinitas
Perayaan Paskah yang kita lakukan setiap tahun pada dasarnya bukanlah sekadar rutinitas gerejawi. Perayaan itu justru memiliki arti yang sangat penting. Beberapa hal yang dapat kita catat sebagai makna dari kebangkitan Yesus.
Pertama, kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa atas maut. Alkitab memberikan bukti bahwa pagi-pagi benar ketika fajar menyingsing pada hari pertama minggu itu para wanita yang menengok kubur Yesus mengalami (Matius 28:1-2), gempa bumi yang hebat dan malaikat Tuhan datang menggulingkan batu yang ada di kubur Yesus.
Sejak peristiwa itu dari mulut ke mulut terdengar berita bahwa Yesus hidup dan bagkit. Dari peristiwa ini kita bisa menarik makna yang sangat penting bahwa Yesus adalah Allah yang tidak dapat dikekang oleh maut. Ia adalah Allah yang berkuasa atas kuasa maut. Dia benar hidup.
Kedua, kebangkitan Yesus membuktikan bahwa janji-Nya tidak pernah gagal atau diingkari. Sebelum Yesus mati di kayu salib dan dikuburkan, Dia telah memberitahukan kepada para murid- Nya bahwa Ia akan diserahkan ke tangan orang berdosa dan akan mati, namun pada hari yang ketiga akan dibangkitkan (Luk. 24:7). Peristiwa Paskah adalah pembuktian janji Tuhan bagi semua umat manusia. Di samping itu kebangkitan- Nya merupakan peneguhan dari janji-Nya. Kristus bangkit dari kematian untuk menggenapi firman Tuhan, sejalan dengan itu Alkitab dalam I Kor. 15: 13-17 menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus adalah penggenapan janji kehidupan yang kekal.
Ketiga, Paskah menunjukkan adanya pengharapan bagi orang percaya. Dengan kebangkitan Yesus dari kematian, maka sesuai dengan 1 Kor. 15:13-19 kita dianugerahi hidup kekal. Kita bisa berpikir secara logis dalam hal ini, jika Sang Pemberi Hidup tetap dalam kubur bagaimana mungkin kita akan mendapatkan hidup kekal? Tetapi syukur kepada Yesus Kristus yang mengalahkan kuasa dosa dan maut sehingga kita menerima hidup kekal. Paulus menekankan pentingnya peristiwa kebangkitan Yesus dalam iman Kristen. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan selalu bertumpu pada iman dan pengharapan, jadi dengan peristiwa Paskah iman dan harapan kita makin diteguhkan.
Hari Kebangkitan
Paskah telah mengubah sejarah kehidupan umat manusia. Lebih lagi semua orang yang percaya kepada Yesus. Paskah menjadi tonggak sejarah kehidupan iman kita. Kita mempercayai bukan Allah yang mati tetapi Allah yang benar-benar hidup. Selain itu kita pun mengerti bahwa Yesus berbeda dari tokoh-tokoh agama di dunia ini. Tokoh agama di muka bumi ini hanya memiliki hari kelahiran dan kematian, tetapi hanya Yesus Kristus yang punya hari kebangkitan.
Kebangkitan itulah yang membawa pembebasan bagi kita dari kuasa dosa dan maut. Seperti yang Paulus tuliskan “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut dimanakah kemenanganmu?” (1 Kor. 15:54-55).
Mari kita baharui sikap kita. Ubah sikap kita. Tinggalkan semua cara hidup kita yang lama. Semua rasa sakit yang dirasakan manusia tidak sebanding dengan pengorbanan Yesus. Karna Yesus sudah terlebih dahulu mengalaminya. SELAMAT PASKAH.

Amplop dan Celengan APP 2015


Hasil penghitungan amplop dan celengan APP 2015
Amplop         :   Rp 1.761.000,00
Celengan       :   Rp 1.914.000,00

Jml amplop + celengan  :   Rp 3.675.000,00

Terima kasih atas partisipasi umat. Semoga Tuhan memberkati kt semua. Amien. Berkah Dalem.

Jumat, 03 April 2015

Jum'at Agung


Keajaiban Di Jumat Agung
Penulis : Dr. Eben Nuban Timo

JUMAT Agung adalah hari yang istimewa. Tidak biasanya orang Kristen bersekutu pada hari Jumat. Hari persekutuan dan ibadah Kristen sepanjang segala masa adalah hari pertama dalam seminggu. Bukan hari keenam, atau Jumat. Dan kalau anak-anak kita bertanya: "Mengapa Jumat Agung lain dari Jumat-Jumat yang biasa? Jawaban yang pasti dari para orangtua: "Karena pada hari Jumat Agung Yesus Kristus mati. Ia disalibkan dan menyerahkan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang". Tentu saja jawaban ini benar. Tuhan Yesus mati pada hari Jumat.

Jumat Agung adalah hari yang unik. Kalau Matius hanya mencatat dua hal luar biasa. Lukas mencatat bagi kita tiga kejadian ajaib yang membuat Jumat yang satu itu lain dari kebanyakan hari Jumat. Pertama, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam. Kedua, tabir Bait Suci terbelah dua. Ketiga, kepala pasukan penyaliban memuliakan Allah di depan umum. Tulisan ini akan terfokus pada ketiga keajaiban di Jumat yang Agung. Pertama: ada kegelaan meliputi seluruh daerah itu dari jam dua belas sampai jam tiga.

Matahari tidak mau bersinar. Bumi menjadi gelap. Mengapa begitu? Para ilmuwan bisa saja menjawab: ya itu terjadi karena gerhana matahari total yang terjadi pada waktu itu. Jawaban ini tidak mungkin. Karena gerhana matahari hanya bisa terjadi jika bulan gelap. Tetapi pada saat itu orang Yahudi merayakan paskah. Perayaan paskah selalu terjadi pada saat bulan purnama. Menurut perhitungan kalender Israel bulan baru selalu mulai dengan awal munculnya bulan. Hari keempat belas dari bulan baru, yaitu saat dimana domba paskah harus disembelih, jatuh sama dengan bulan purnama. Pada waktu itu posisi bulan berseberangan dengan matahari. Bumi berada di antara bulan dan matahari. Gerhana matahari hanya mungkin terjadi kalau bulan berada di antara matahari dan bumi.

Jadi gelap gulita yang terjadi pada hari Jumat Agung tidak ada sangkut paut dengan gerhana matahari. Kegelapan saat itu adalah sebuah kejadian yang janggal. Ia bukan gejala alam biasa, yakni gerhana matahari. Lalu apa sebenarnya penyebab kegelapan itu?

Saya ajak kita melakukan anjangsana ke perjanjian lama. Baiklah kita ingat kembali kisah penciptaan. Kalimat pertama dari Alkitab berbunyi: "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum terbentuk dan kosong. Gelap gulita menutupi samudera raya".

Bumi berada dalam gelap. Bumi baru mengenal terang waktu Allah mulai bertindak. Itu sebabnya Kitab Kejadian melaporkan bahwa pekerjaan yang dilakukan Allah pada hari pertama adalah "menjadikan terang". Terang datang dari Allah. Karya Allah identik dengan terang. Dan karya Allah berlangsung dalam terang.

Allah menciptakan terang pada hari pertama. Tapi itu saja belum cukup. Pada hari keempat, terang itu dilipatgandakan lagi oleh Allah dengan menciptakan benda-benda penerang. Apakah dengan itu gelap sudah terusir dari dunia? Ternyata tidak. Kegelapan masih saja ada. Yesaya 9:1 masih bicara tentang bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Bagaimana itu mungkin, padahal Allah sudah menjadikan terang dan membuat benda-benda penerang?

Rupanya betapa pun baik dan berguna terang itu, ia tidak mampu menghalau semua kejahatan dari muka bumi. Karena terang itu hanyalah ciptaan. Untuk benar-benar menghalau kegelapan dari muka bumi, terang yang sejati harus datang ke dalam dunia. Yesuslah terang yang sejati. Terang yang sesungguhnya. Terang yang diciptakan Allah pada hari pertama dan yang dipancarkan dari benda-benda penerang hanyalah pantulan atau refleksi dari terang yang sejati itu. Terang dalam Kejadian 1:3 dan terang yang dipancarkan benda-benda penerang, yaitu matahari, bulan dan bintang, tidak memiliki terang sendiri. Mereka menjadi terang karena ada terang yang seja

Kamis Putih


Perjamuan malam terakhir

Pembasuhan kaki para murid



Kamis Putih dirayakan untuk memperingati Perjamuan Tuhan di malam terakhir sebelum sengsaraNya serta pendirian/institusi Sakramen Ekaristi, saat dimana Yesus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri dalam rupa roti dan anggur yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya serta pemberian perintah/hukum cinta kasih. Dalam perjamuan makan malam terakhir inilah salah satu murid Yesus yaitu Yudas Iskariot pengkhianatiNYA dengan menyerahkan Yesus ke para serdadu untuk diserahkan ke Pengadilan dan akhirnya di Salib.

Dalam perayaan Kamis Putih di Gereja saat ini ada berbagai macam prosesi yang mengandung arti yang perlu kita tahu:

Pembasuhan kaki (Mandatum), melambangkan cinta kasih dan pelayanan total Yesus Kristus kepada para muridNya. Ia yang adalah Allah rela merendahkan diri menjadi manusia dan demi cinta kasihNya yang total kepada manusia Ia berkenan menunjukkan ketotalan cinta dan pelayanan itu dengan merendahkan diri menjadi pembasuh kaki para muridNya, yang biasanya dilakukan oleh para budak. Perarakan Sakramen Mahakudus, melambangkan perjalanan Yesus dari tempat perjamuan malam terakhir ke Taman Getsemani. Dalam perarakan di hari Kamis Putih, Sakramen Mahakudus diletakkan dalam sibori (bukan monstrans!), melambangkan Yesus dalam kesederhanaan, ketakutan dan kesedihan hendak berdoa kepada BapaNya. Perarakan Sakramen Mahakudus ini diiringi lagu Tantum Ergo dan diselingi penyembahan-penyembahan (berlutut) oleh umat yang ditandai bunyi (klothokan) kayu tanda kesedihan (bukan suara logam atau lonceng yang menandakan kemeriahan). Perlucutan altar, Disini segala hiasan yang ada di altar akan dilucuti dan disingkirkan, meninggalkan altar yang polos tanpa hiasan apapun dan tabernakel yang terbuka. Ini melambangkan Gereja (kita semua) yang mulai masuk dalam suasana hati berduka dan dalam kesedihan mendalam. Perlucutan altar juga hendak mengungkapkan dan mengenangkan Yesus yang masuk dalam penderitaan dan kesengsaraan, segala kemuliaan yang ada padaNya diambil dan yang nampak ‘hanyalah’ Anak Manusia yang Sengsara. Tuguran atau Tirakatan, ialah saat Sakramen Mahakudus telah diletakkan di altar persinggahan, dan umat bersembah sujud, berdoa, dan merenung di depan Sakramen Mahakudus. Ini melambangkan Yesus yang dalam ketakutan dan kegentaran berdoa kepada Bapa di Taman Getsemani. Di taman itu Yesus berpesan kepada para muridNya: “Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Mat 26:38). Juga SabdaNya: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mat 26:40b-41). Umat melaksanakan Tuguran / berjaga-jaga sambil berdoa baik secara pribadi maupun dalam kelompok, entah secara bersama atau bergantian.